Sumber: http://surl.li/clmti
Saat ini, kelelahan tampaknya sudah tidak asing bagi para pekerja. Seiring dengan ketidakmampuan pekerja untuk memenuhi tuntutan kerja dapat mengakibatkan stres. Seseorang akan berusaha untuk mengelola stres tapi belum tentu berhasil melakukannya, hal ini akan mengakibatkan seseorang terbelenggu dalam situasi yang memperburuk kondisi fisik maupun mentalnya. Seseorang yang mengalami stres yang tinggi pada pekerjaan cenderung lebih merasa lelah terhadap apa yang dia kerjakan, sehingga dapat menimbulkan penurunan kinerja dalam pekerjaannya, kondisi ini dinamakan burnout. Maka dari itu, pekerja perlu mempersiapkan strategi untuk mempertahankan dirinya di perusahaan.
Apa sih ‘Stres’ itu?
Sumber: https://nsd.co.id/assets/img/artikel/STRES.jpg
Stres adalah respon individu terhadap keadaan-keadaan dan peristiwa-peristiwa yang mengancam dan menekan individu serta mengurangi kemampuan-kemampuan mereka menghadapinya (Santrock, 2002). Stres terjadi di lingkungan eksternal dan mempengaruhi seseorang sehingga mengakibatkan penurunan kesehatan fisik dan mental seseorang (Segerstrom & O’Connor, 2012).
Sumber stres kerja yang dialami oleh seorang karyawan setidaknya ada 3 (Robbins, 2007).
Sumber stres kerja tersebut antara lain:
Tuntutan tugas
Faktor ini mencakup desain pekerjaan individu itu (otonomi, keragaman tugas, tingkat otomatisasi), kondisi kerja, dan tata letak fisik. Makin banyak kesalingtergantungan antara tugas seseorang dengan tugas orang lain, maka semakin besar potensial untuk terjadi stres.
Tuntutan peran
Stres kerja yang berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam organisasi tertentu. Konflik peran menciptakan harapan-harapan yang hampir pasti tidak dapat diwujudkan atau dipuaskan. Jika hal itu sampai terjadi pada karyawan maka dapat dipastikan karyawan akan mengalami ketidakjelasan mengenai apa yang harus dikerjakan.
Tuntutan pribadi
Kurangnya dukungan sosial dari rekan-rekan kerja dan hubungan antar pribadi yang buruk dapat menimbulkan stres yang cukup besar, terutama dengan pekerja lain dengan kebutuhan sosial yang tinggi.
Apa sih ‘Burnout’ itu?
Sumber: http://www.shorturl.at/cFM01
Banyaknya pekerjaan yang tak kunjung terselesaikan menjadi pemicu munculnya gejala burnout. Untuk burnout sendiri disebabkan oleh kelelahan emosional, depersonalisasi, dan penurunan pencapaian prestasi pribadi.
Burnout merupakan sindrom kelelahan, baik secara fisik maupun mental yang termasuk di dalamnya berkembang konsep diri yang negatif, kurangnya konsentrasi serta perilaku kerja yang negatif (Pines & Maslach, 1993). Keadaan ini membuat suasana pekerjaan menjadi kurang nyaman, performansi menurun, prestasi pekerja menjadi tidak maksimal, dan lain-lain. Burnout atau kelelahan kerja juga dipengaruhi oleh ketidaksesuaian antara usaha dengan apa yang di dapat oleh pekerja.
Tips untuk mengurangi ‘Stress and Burnout’
Mengetahui batasan diri untuk menjaga mental yang sehat.
Melakukan hobi agar tidak memikirkan pekerjaan terus-menerus yang berujung terjadi nya stres dan burnout.
Meningkatkan self-efficacy. Dengan memiliki self-efficacy, Ergofams dapat meyakini bisa mencapai tujuan-tujuan dan menyelesaikan pekerjaan yang ada.
Melakukan mindfulness, hal ini pun dapat menjaga Ergofams untuk fokus pada tanggung jawabmu saat ini, bukan yang lain.
Menerapkan gaya hidup sehat. Tidak hanya baik untuk kesehatan fisik, tetapi gaya hidup sehat juga baik untuk kesehatan mental. Misalnya dengan melakukan olahraga rutin, konsumsi makanan seimbang, dan tidur yang cukup.
Referensi
Atmaja, I. G. I. W., & Suana, I. W. (2019). Pengaruh Beban Kerja Terhadap Burnout dengan Role Stres Sebagai Variabel Mediasi Pada Karyawan Rumours Restaurant, 8, 1-30. Cara Mencegah Burn Out agar Mentalmu Tetap Sehat. (2021, December 20). Glints. Retrieved July 9, 2022, from https://glints.com/id/lowongan/cara-mencegah-burn-out/#.Ysj73-xBwUo Samodro, E. (2018). HUBUNGAN ANTARA STRES KERJA DENGAN BURNOUT PADA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI, 1-20. Vidal, B. A. T. (2019). Stress and Burnout: Empathy, Engagement, and Retention in Healthcare Support Staff. Walden University.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar